Kemerdekaan yang diraih oleh Indonesia tidak lepas dari kegigihan para pejuang kemerdekaan, mulai dari tokoh agama hingga rakyat jelata. Hingga akhirnya pada tanggal 17 agustus tahun 1945, bangsa ini berhasil mengusir dua penjajah yang merongrong negeri ini dan menjadi merdeka!

Seperti halnya bangsa ini, kita juga dijajah oleh dua penjajah, yakni pertama : Syaitan dan yang kedua Hawa nafsu

Syaitan dinyatakan sebagai musuh manusia sejak jamannya kakek moyang kita, Nabi Adam A.S,

Allah jelas-jelas menyatakan bahwa syaitan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu. [Surat Al-Baqarah :208]

Yang kedua : Hawa Nafsu

Hawa nafsu oleh Rasul disebut sebagai musuh terkuat yang dihadapi kita semua, ketika rasul bersama para sahabatnya pulang setelah peperangan besar yang paling bersejarah, Ghozwatil Badr, dengan perasaan bangga, terhanyut dengan efuria kemenangan besar, namun baginda Nabi justru mengingatkan para sahabat dan tentu kita semua,

beliau bersabda : رجعنا من جهاد الأصغر الي جهاد الأكبر

Kita telah kembali dari jihad kecil, menuju jihad yang lebih besar

Para sahabat lalu bertanya, apa ada jihad yang lebih besar dari peperangan badar?

Beliau menjawab, جهاد النفس

Jihad melawan hawa nafsu!

 

Rasulullah juga mewanti-wanti kita semua, melalui sabdanya beliau memberikan informasi :

أعد عدوّك نفسك الذي بين جنبيك

Musuhmu yang paling kuat adalah nafsumu yang bersemayam diantara dua pundakmu!

Para hadirin jamaah jumat yang dirahmati Allah

Lalu, Strategi apa atau langkah seperti apa yang harus kita tempuh agar kita menang melawan musuh-musuh nyata itu? bagaimana kita meraih kemerdekaan diri?

Pertama, untuk melawan syaitan kita harus mengikhlaskan diri kita dalam beribadah kepada Allah, bergantung kepada Allah, memohon perlindungan diri kepada Allah.

Allah sendiri mengabadikan ikrar syaitan dalam Alquran, Q.S Saad  

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,

Syaitan juga yang mengecualikan hamba mana yang selamat dari tipu dayanya, masih di dalam Q.S Saad lanjutan dari ayat diatas

اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ – ٨٣

kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”

Imam At-Thabari memberikan komentar dalam tafsirnya :

 إلا من أخلصته منهم لعبادتك, وعصمتَه من إضلالي, فلم تجعل لي عليه سبيلا فإني لا أقدر على إضلاله وإغوائه

Kecuali, orang yang mengikhlaskan diri merka untuk beribadah kepada-Mu, dan memohon perlindungan kepada-Nya dari penyesatan iblis…

Dalam satu kesempatan, Allah juga menyatakan bahwa tipu daya syaitan itu lemah,

إنَّ كَيد الشيطان كَانَ ضعيفًا

Disatu sisi, manusia juga diciptakan menjadi makhluk lemah. Dalam artian sama-sama lemah maka sudah seharusnya manusia berlindung kepada dzat yang maha kuat, agar terhindar dari jerat muslihat.

Nafsu adalah bagian dari kita, yang bisa kita tempuh untuk mengalahkan nafsu adalah mengendalikannya.

nafsu itu satu, akan tetapi mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang Allah informasikan dalam Alquran, ada 3 sifat nafsu.

  1. Nafsu yang selalu mengajak keburukan, nafsu ammaroh bissu’

  2. Nafsu lawwamah, sang pengkritik, nafsu yang selalu mengkeritik kita jika melakukan kebaikan dan

  3. Nafsu muthmainnah, nafsu yang tenang.

Kembali Ke diri kita, rasakan sendiri, apa sifat nafsu kita?

Jika masih Ammaroh, kekanglah! Ini kuncinya, bahasa imam Al Bushiri adalah menyapih nafsu ammaroh, dalam bait syair burdahnya beliau mengibaratkan nafsu seperti anak kecil yang masih menyusu, wajib disapih.

والنفس كالطفل إن تهمله شب على **** حب الرضـــــاع وإن تفـطمه ينفطــم

Nafsu ammaroh yang berhasil dijinakkan akan berubah sifat menjadi nafsu lawwamah, Allah bersumpah dng nafsu ini.

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

[Q.S Al Qiyamah]

Nafsu ini mengkritik kita, mendorong kita untuk berbuat lebih dalam kebaikan, turuti… sehingga nafsu ini berubah lagi menjadi nafsu yang tenang, Muthmainnah.

Apabila kita telah menang melawan syaitan dan berhasil merubah sifat nafsu menjadi muthmainnah, itu lah kemerdekaan diri kita… Allah akan memberikan hadiah sebagaimana tercantum di akhir surat Al Fajr :

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

Wahai jiwa yang tenang!

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,

dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Share:
0
Total Santri
0
Guru Pengajar
0
Cabang
0
Program Belajar
Like us!
Follow us!
Follow us!
Watch us!